Cinta Rasa Kopi

DSC04275

“Love is like a cup of coffee.

It’s bitter, but still, people fall for it.”

(Jakarta, Indonesia. 2016)

Bara terbangun mengerjapkan matanya yang masih berat sisa semalam. Lemburan pekerjaan dan kemacetan Jakarta membuatnya baru sampai di rumah tengah malam. Jam biologis tubuhnya memang kadang mengganggu tidurnya. Semalam apapun Bara tidur, dia akan terbangun bahkan sebelum matahari benar-benar terbit. Pada hari kerja, biasanya dia langsung menyalakan mesin kopinya dan ke kamar mandi sambil bersiap pergi ke kantor. Tetapi pagi ini sedikit berbeda, Bara terbangun dengan banyak pikiran yang mengganjal hatinya. Wajahnya yang lelah tampak suram dan sayu. Badannya pun terasa lemah dan tak bertenaga. Memaksakan diri, Bara langsung melangkahkan kaki ke kamar mandi, lupa menyalakan mesin kopinya. Di bawah aliran air hangat dari shower, pikirannya melayang-layang jauh. Semalam, di tengah kesibukannya di kantor, Bara menerima pesan singkat dari Keira.

“Blue, I have to let you go. You know why. Please take care of yourself. I love you so much.”

Pernyataan singkat yang membuatnya tidak tahu harus berbuat apa. Sejak Keira melanjutkan studi masternya ke Kanada, Bara menjalani hubungan jarak jauh dengan sang pujaan hati. Pasangan yang membuat banyak mata menatap iri selama 2 tahun belakangan ini harus terpisah ribuan kilometer. Bersama Keira, Bara menjadi pribadi yang hangat dan romantis. Rasa cintanya pada Keira tak pernah habis. Ketika Keira memutuskan untuk pergi, mereka berjanji untuk melanjutkan hubungan mereka meskipun jarak yang memisahkan terlalu jauh.

Tidak dapat dipungkiri, sejak mereka menjalani hubungan jarak jauh, masalah demi masalah membuat pasangan ini sering bertengkar. Beberapa kali kata putus terlontar dari mulut Keira. Semua karena rasa rindu yang menusuk hingga melabilkan emosi dan perbedaan waktu yang membuat komunikasi mereka menjadi sangat sulit. Selain itu, Keira tahu betapa Bara mencintainya dan selalu berusaha mempertahankan hubungan mereka. Sebenarnya, bagi Keira pun, Bara adalah sosok pasangan yang sempurna. Semua yang pernah dia inginkan dari seorang kekasih ada dalam satu orang bernama Bara. Tapi kata putus yang terlontar terlalu sering dari mulut Keira mengantar komitmen hubungan mereka ke ujung jalan. Status pacar tak lagi milik mereka berdua, namun perasaan sayang yang terlalu dalam membuat mereka masih bertahan di sisi masing-masing walau tanpa status. Beberapa kali Bara mengajak Keira untuk kembali bersamanya. Tetapi jawaban Keira selalu sama, “Aku ga bisa, Blue.” Bara tahu dan mengerti alasannya. Tapi hatinya tak bisa menerima alasan Keira.

Bara tak pernah menyesal saat menjatuhkan hatinya untuk Keira, bahkan saat bidadari hatinya itu mengakhiri hubungan berstatus mereka berdua. Tapi sekarang, saat Keira memutuskan untuk melepaskan Bara, hatinya hancur sampai dadanya terasa sakit. Banyak pertanyaan di otaknya, banyak emosi membuncah di hatinya. Tetapi tak satu pun bisa dan pantas disampaikan. Jalur komunikasi mereka berdua telah diputus oleh Keira, yang juga bukan miliknya lagi.

Bara tersadar saat alarm dari telepon genggamnya berbunyi kencang. Dengan terburu-buru, Bara menyelesaikan prosesi mandi dan bersiap meminum secangkir kopi kesukaannya. Nyatanya, mesin kopi masih dalam keadaan mati dan Bara tahu bahwa dia akan terlambat jika memaksakan menunggu kopi paginya siap. “Tak satu pun yang berjalan baik sejak kamu pergi, Keira.” kata Bara dalam hati. Dengan perasaan tak bersemangat, akhirnya Bara berangkat ke kantor.

Di perjalanan, kembali pikirannya berkelana. Sampai 2 tahun lalu, manusia pecinta zona nyaman bernama Bara tak pernah menyukai kopi. Perjalanan dinasnya ke daerah-daerah pun tak membuat dirinya mulai menikmati kopi dan semua efeknya. Pesan singkat ajakan dari Keira untuk menghadiri pesta kejutan untuk Keisha, sahabat Bara, mengubah kebiasaannya. Keira, adik Keisha, seorang pecinta kopi sejati. Hobi jalan-jalannya ke berbagai daerah membuat dia sudah mencicipi berbagai kopi dari penjuru nusantara. Seorang Keira tidak pernah lupa membawa kopi khas hasil perjalanannya untuk dinikmati bersama Bara. Ya, dia ‘memaksa’ Bara mencintai dan menikmati setiap tegukan minuman pahit bernama kopi. Tapi ada satu hal yang tak perlu Keira paksakan, Bara mencintai wanita bernama Keira itu dalam setiap hembusan nafasnya, seiring dengan aliran darah dari jantung ke setiap sel dalam tubuhnya. Intinya, kehadiran Keira telah memberi kebiasaan baru dan kebahagiaan nyata dalam hidup Bara. Sekejap Bara kembali ke realita saat ada bunyi klakson kencang dari mobil di belakangnya. Lampu hijau telah menyala, mobil di depan telah melaju kencang menjauh.

Sesampainya di kantor, Bara kembali berkutat pada kesibukannya. Rutinitas kantor sempat mendistraksi pikirannya dari Keira. Tapi di setiap detik sela kosong, tetap saja pikirannya kembali mengawang-ngawang. Setiap pagi, saat mesin kopi mulai dinyalakan, Bara selalu mengirim pesan sayang pada Keira. Membangunkan manusia kesayangannya itu dengan dering telepon dan ucapan selamat pagi. Sekarang, pesan itu ditujukan entah ke siapa. Nada di telepon itu tak lagi tersambung. Ada yang hilang, dan Bara tahu persis siapa yang hilang. Sekaligus apa yang hilang. Kebahagiaan, separuh jiwanya, wanita yang dicintainya.

Menjelang pulang, Bara merapikan dokumen-dokumen di atas mejanya. Ketika akan mematikan dan membereskan laptopnya, Bara melihat layar laptopnya yang terpampang foto Keira saat liburan ke Bali. Kembali pikirannya melayang, mengingat kenangan indah saat pergi ke pulau yang terkenal romantis itu. Kesibukan pekerjaan Bara membuat mereka hanya bisa pergi ke Bali, yang tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu singkat, tapi diyakini akan penuh kenangan. Bagi Bara yang suka fotografi, Keira adalah model favoritnya. Bisa dibilang, semua rasa cinta Bara terpancar di setiap hasil potretan yang menangkap ekspresi dan kecantikan Keira. Selain menikmati pantai dan hunting foto bersama Keira, momen paling istimewa dan tak terlupakan adalah momen di mana mereka mendatangi calon tempat pernikahan mereka di daerah Uluwatu. Di sana, mereka berbagi ide konsep pernikahan yang mau mereka selenggarakan. Nuansa putih, kenalan terdekat, pesta kebun, dan menghadap pantai Dreamland, pernikahan romantis penuh magis yang personal. Bahkan mereka sudah menanyakan harga dan ketentuan yang ditetapkan dari pihak venue. Namun sekarang, semuanya hanya tinggal rencana tanpa masa depan. Tak lama kemudian, udara panas dan pengap di ruangannya menyerang. Rupanya pendingin ruangan sudah dimatikan, menyadarkan Bara untuk segera pulang.

Malam hari di kasurnya, Bara terbaring lelah. Matanya yang berat akibat kurang tidur semalam dan melewati hari panjang tanpa kopi paginya sudah memanggil untuk terlelap. Tetapi bayangan Keira dan kata-kata terakhir Keira di pesan singkat terus mengganggunya. Setiap malam, Bara menelepon Keira dan menemaninya tidur hingga pagi hari. Kebiasaan yang tampak bodoh di mata orang lain, tapi istimewa di antara mereka. Bara menikmati suara manja Keira dan keberartiannya untuk Keira di setiap malam, di bawah langit yang sama. Tapi semua tak lagi sama, malam tanpa Keira terasa sepi. Lalu kantuk membawa Bara tertidur malam itu.

(Vancouver, Kanada. 2016)

Malam ini, Keira duduk di depan jendela dan menatap layar telepon genggamnya, gelisah. Kata-kata perpisahan telah diketik dan yang perlu dilakukan hanya tinggal memencet tombol KIRIM. Setelah membulatkan tekadnya, akhirnya Keira memencet tombol tersebut, mengeksekusi niatnya. Ditemani cangkir kopi ketiganya, Keira terjaga hingga menjelang matahari terbit. Pikirannya melayang-layang jauh. Wangi kopi selalu mengingatkan Keira pada pribadi bernama Bara, manusia rumit yang dulu tidak menyukai kopi. Yang dari awal pertemuan sudah Keira ajak bertemu di kedai-kedai kopi favoritnya, yang dari awal sejak mereka bersama sudah Keira ‘paksa’ untuk belajar mencintai kopi. Bara dan kopi di pagi hari, kombinasi yang selalu menyempurnakan hari-harinya.  Kopi, minuman yang membuatnya jatuh hati sejak lama. Bara, lelaki yang dicintainya 2 tahun belakangan ini.  Sosok yang unik dan berbeda, seperti Kopi Bali Kintamani favoritnya yang mempunyai rasa asam dan segar di setiap teguknya. Tak ada bosannya. Bersama Bara, Keira selalu merasa tenang. Pelukannya menyamankan. Rasa kagumnya pada Bara tak pernah pudar. Bayangan melepaskan Bara membuat dirinya gemetar.

Pagi hari, langit kota Vancouver berawan, kelabu seperti hati Keira. Udara dingin dan hati yang patah memang kombinasi untuk terus berbaring di tempat tidur. Semua media sosial yang berhubungan dengan Bara telah diblok. Hanya satu tujuannya, agar Keira sanggup memaksakan diri melepaskan Bara dan sebaliknya. Dalam hatinya, dia yakin bahwa dirinya tak pernah bisa berhenti mencintai Bara jika melanjutkan hubungan ini. Hubungan yang tanpa masa depan karena Keira akan pindah menjadi warga negara Kanada secepatnya. Sudah sejak setengah tahun lalu, Keira dan keluarga mengurus kepindahan mereka ke sana. Alasannya karena Mama Keira harus pindah ke negara lain demi menghindari suaminya yang posesif dan kasar. Padahal di saat yang sama, ada wanita lain yang diberi perhatian lebih oleh suaminya. Akhirnya, pilihan jatuh ke Kanada karena ada keluarga yang sudah menetap di sana.

Keira dengan enggan mulai bersiap-siap ke kampus. Mengambil buku catatan dari meja belajarnya. Kemudian terlihat olehnya sebuah buku yang tak pernah bosan dibacanya. Sebuah buku yang sengaja Keira buat dari kumpulan kata-kata ekspresi cinta dari Bara. Obat penawar saat rindu menghujam jantungnya. Dia tahu persis semua kata-kata itu benar adanya karena Keira selalu merasakan setiap kata yang tercetak di sana. Sebuah buku yang persis sama ada di tangan Bara, yang diberikan oleh Keira menjelang kepergiannya ke negara ini. Terselip kartu Valentine dari Bara di dalam buku tersebut yang digunakan sebagai pembatas buku.

DSC01925“For my most favorite girl in the world, I love all of you. Thank you for being here all this time. Thank you for loving me this much. Thank you for being my inspiration and muse. Thank you for being you. Love you, Baby. Just stay. Yours, Blue.”

Tulisan di kartu itu membuat mata Keira berkaca-kaca mengenang Blue, panggilan kesayangan Keira untuk Bara, ciptaan Tuhan yang paling dia suka. Bagi Keira, blue yang berarti biru adalah warna favorit Sang Pencipta. Langit dan laut, semuanya biru dengan gradasi yang berbeda. Keajaiban laut yang dilihatnya saat menyelam adalah hal yang membuat Keira jatuh cinta pada perairan asin itu. Keindahan langit biru dengan awan putih selalu membuat Bara takjub, hingga terserap dalam kamera mirrorless miliknya. Dua hal yang mereka kagumi, adalah dua hal yang bernuansa biru. Teriak panggilan dari bawah menyadarkan Keira. Lalu tergesa-gesa Keira berangkat ke kampus.

Saat istirahat makan siang, Keira memilih duduk sendiri di kafetaria. Dirinya sedang tak ingin diganggu. Hatinya teringat saat dia masih bisa berbagi cerita tentang harinya dan hal-hal sederhana lainnya kepada Bara. Saat berjalan di kampus, ditemani telinga Bara yang setia mendengarkan celotehnya dan suara yang menenangkan. Canda yang selalu bisa membuat Keira tertawa dan tersenyum lebar saat ada yang mengganggu suasana hatinya. Muka Bara yang ekspresif di video call, yang mengisi hari-harinya. Setelah menyelesaikan makan siangnya, Keira memeriksa jadwal kuliahnya dan mendapati masih ada kelas hingga sore nanti. Sambil berjalan, diputarnya rekaman lagu-lagu ciptaan Bara yang dibuat khusus untuknya. Tanpa sadar, ingatan dan kisah tentang mereka terputar kembali di pikiran Keira. Perasaan sayangnya begitu kuat hingga membuat Keira menghentikan langkahnya di tengah kampus. Terdiam sejenak, menghela nafas, kemudian dia mulai melangkahkan kakinya lagi, menuju ruang kelas berikutnya. Materi yang disampaikan dosen di depan tak satu pun masuk ke otaknya yang sedang mengawang-ngawang. Lirik lagu- lagu yang tadi diputar mengingatkan Keira akan memori yang kini tinggal histori. Tapi keputusan telah diambil. Yang bisa dilakukan hanya menerima dan menjalani konsekuensi dari pilihannya sendiri.

Sore itu, Keira telah kembali ke rumahnya. Bercengkrama bersama keluarganya tidak membuat hatinya merasa lebih baik. Di tengah canda tawa yang ada, Keira merasa sangat sepi. Tanpa sadar, air mata menetes di pipinya. Keira memalingkan wajah, berdiri, dan berlari ke kamarnya. Dikuncinya kamar itu hingga malam menjelang. Tak ada lagi pesan singkat yang muncul di layar telepon genggamnya. Tak ada lagi bunyi dering telepon yang ditunggunya. Tak ada lagi kehadiran virtual Bara lewat desahan nafas yang menemani tidurnya di malam hari. Ada yang hilang, dan Keira tahu persis siapa yang hilang. Sekaligus apa yang hilang. Kebahagiaan, separuh jiwanya, lelaki yang dicintainya.

(Jakarta, Indonesia. 2016)

Setiap hari, sudah 3 bulan sejak Keira mengirim pesan singkat terakhir, semua seperti rekaman yang terulang. Pagi masih datang di waktu yang sama, hari yang dijalani masih sama panjangnya, dan malam yang tersisa masih sama kelamnya. Bara belum juga dapat melupakan rasa kehilangan itu. Di setiap kesibukan dan senggangnya waktu yang dilalui, semuanya dipenuhi bayangan sosok cantik dan baik hati yang pernah menjadi bagian hidupnya. Yang masih, paling, dan selalu dicintainya.

Sejak hari itu, Bara memang merasa kosong. Setiap pagi, dia terbangun dengan perasaan yang masih sama hampanya. Dadanya sakit sampai ke ulu hati hingga nafasnya tertahan. Terlalu banyak memori yang tak bisa hilang. Definisi kata sempurna saat Keira masih bersamanya hanya tinggal histori. Secangkir kopi harum di pagi hari yang dulu menyemangati harinya tak lagi punya efek yang sama. Justru wangi kopi yang dulu selalu membuatnya tersenyum, sekarang membuat hatinya pahit. Tak lagi nikmat yang dirasa dari suguhan yang dulu jadi minuman andalannya. Wadah-wadah biji kopi yang biasanya terisi penuh, sekarang sudah mulai ada ruang. Mungkin seiring habisnya biji kopi dalam semua wadah itu, Bara bisa belajar berhenti mencintai Keira. Mungkin nanti, ya, mungkin.

 

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s